Seberapa pentingkah tulisan ini untuk anda?

Rabu, 26 Agustus 2009

Digital Recording Untuk Musisi Mandiri






Kurang lebih lima tahun saya terjun tanggung ke dunia musik di wilayah tempat saya tinggal, yaitu kota Banjarbaru, sejak saat itu sampai dengan sekarang ini ada lumayan banyak even-even musik baik festival maupun parade musik, tapi hingga saat ini jarang sekali ada yang mampu menyalurkan para pesertanya hingga menjadi musisi terkenal yang bertaraf nasional apalagi masuk dalam label besar.
Berbagai cara pun dilakukan para musisi di Banjarbaru agar dapat meluluskan cita-cita mereka untuk menjadi band yang populer di negeri ini, minimal di propinsi mereka. Beberapa diantaranya bahkan tidak pernah absen dalam mengikuti even musik yang terselenggara, mengikuti segala jenis festival musik bahkan beberapa diantara mereka telah merekam lagu mereka sebagai demo.
Yang jelas dari semua yang mereka lakukan di atas tidak lain karena alasan dan tujuan yang kurang lebih sama, yaitu untuk meraih kesuksesan dalam bermusik.
pertanyaannya adalah "Kapankah musisi di Kalimantan khususnya Kal-sel dapat terfasilitasi segala obsesinya untuk menjadi seniman besar" jika:
1. Jarang bahkan tidak ada produser yang mensuport,
2. Ketersediaan lembaga pendidikan yang mendukung bidang itu,
3. Apresiasi masyarakat yang mungkin sangat kurang,
4. Tidak adanya lembaga yang mendukung pemasaran karya mereka.
Hingga akhirnya mereka memilih memproduseri karya mereka sendiri dalam bentuk demo maupun album yang mereka edarkan tanpa ada suport dari label manapun(indie).
sejak saat itulah perekaman secara digital menjadi populer di Banjarbaru, tidak hanya terdapat pada studio musik saja, ada juga yang bersifat home recording dengan kualitas yang cukup bisa dipertanggung jawabkan, penggunaan sofware DAW (digital audio workstation) yang di pelajari hanya bersifat otodidak dan didapat dalam bentuk trial di internet dengan segala kekurangannya tidak menyurutkan semangat untuk berkarya, meski saat ini sudah banyak yang menggunakan program yang jauh lebih canggih dan lebih lengkap.
Semua ini mengingatkan saya saat mencoba untuk membuat sebuah rekaman dengan menggunakan pc intel pentium3, ram 128 dan hdd 20gb menggunakan soundcard onboard yang beraplikasikan Cool edit pro 1.0, saat itu tidak memiliki program seqwencer dengan plugin lengkap yang ada pada Cakewalk, Cubase, Nuendo bahkan Protool seperti sekarang ini, pembuatan patern drum dilakukan step by step dengan merekam suara drum pada keyboard ke DAW atau dengan merekam sample drum yang disusun pada Sonic foundry acid pro3, hingga akhirnya menemukan cara lain seperti aplikasi Fl studio 3.0, Acoustica beatcraft dan beberapa sofware di tahun ini, saat ini jika kita membuka mata lebar-lebar di kota ini sudah sangat banyak yang menggunakan teknologi digital recording ini di studio dan di rumah-rumah, tentunya hal ini mulai memberi manfaat besar bagi kemajuan musik di Kal-sel khususnya Banjarbaru. Dengan kondisi semacam ini tentunya akan lebih mudah bagi para musisi untuk bisa berkarya secara mandiri.











6 komentar:

  1. great thingker kak...
    salut...
    pertama yang harus diperbaiki kayaknya
    - apresiasi dari masyarakat kalimantan kususnya masyarakat kalsel sendiri tentang para musisi2 ntu yang masih kurang...entah kenapa mungkin karena image,,budaya ,,atau hal yang lain...jadi langkah pertama meng improve penilaian masyarakat...dari masyarakat semuanya akan lebih mudah coz masyarakat (publik) adalah kunci keberhasilan kan menarik perhatian?
    - kalau sarana dan prasarana kayaknya masih bisa di handle kak...bisa pake proposal keg itu...nah masalah diterima atau ga kembali lagi deh dg apresiasi para pejabat2 yg berwenang ntu (mereka suka atau ga)dan cara pembawaan kita membisai mereka
    - wadah pendidikan...nah ntu penting kak...hampir ga ada yah disini...les2 piano gitu juga hampir ga ada..bener kata kaka kebanyakan otodidak semuanya belajar...berharap semoga kedepannya ada satu wadah yg bisa menampung bakat dan minat anak2 banua...amien..

    BalasHapus
  2. Thank's Comentnya ya... Karina., semoga mereka2 yang bergerak di bidang ini bisa suport dan mau bekerja sama.

    BalasHapus
  3. yang gak bergerak di bidang ini jg support koq mas,,,,

    kan support bkn berarti hanya hasil dari event2 yang bisa mempopulerkan band daerah atau pun kurang lembaga2 pendidikan dalam hal dunia musik di daerah kita,,

    tetapi jg sambutan hangat dan banyaknya viewer yang hadir jg merupakan hal yang bagus banget,,

    walaupun saya bukan musisi, tapi saya adalah penikmat musik

    mungkin ini salah satu pendapat dari kacamata orang yang bukan dari dunia musik,,


    sukses selalu mas, buat recordingnya,,,

    oya jangan lupa dipikir2 jg tentang ngerjain sawah punya calon mertua, hehehehehe

    BalasHapus
  4. Huahahahahaha...... betul2 Rif....

    BalasHapus
  5. saya nyoba record dengan mixer n laptop ko tdk bs? apakah ada yg salah? mhn dicek :
    1. semua line (back sound+mic drum set+vocal) masuk ke mixer 12channel,
    2. kemudian ada yg saya outkan pake sound L-R (SRX)
    3. line out lain saya masukkan laptop, tp tdk bisa di record

    Tanya? untuk input ke laptop, masuk ke mana? line out? mic? ato yg mana? apa harus laptop yg punya line in?

    BalasHapus